Sabtu, 04 Agustus 2012

peluru amarah

 
Ingatlah ketika terasa nikmatnya kebersamaan dengan teman-teman. Semangat, canda, tekad melebur menjadi kekompakan. Di sebuah team akan banyak sekali ditemui personal dengan potensi dan karakter-karakter yang beda dan itu pasti. Bukannya perbedaan-perbedaan itu dibiarkan saja dan mengalir, tetapi setiap perbedaan itu akan menjadi tiang-tiang untuk suksesnya team. Kita tidak sendiri, tidak ada superman disini.
Kebersamaan dan saling memahami satu sama lain terkadang menjadi titik kunci untuk sebuah persahabatan dan terlebih ukhuwah. Yah... terkadang di dalam persahabatan ada kalanya sangat terasa dipuncak dan kadang terasa dibawah. Tragisnya hal seperti itu sudah menjadi bumbu-bumbu penyedap untuk menuju level yang lebih top. Ketika serasa ada peluru amarah yang menembus tubuh apakah kita hanya ingin tetap dengan keadaan itu atau kita ingin mengeluarkannya. Sayangnya peluru itu tidak bisa dikeluarkan dengan cara medis seperti halnya peluru pistol, shotgun dan lain-lain. Tapi masih ada obat penyembuhnya untuk mengeluarkannya. Peluru itu bisa dikeluarkan jika kita berzikir, bermuhasabah dan sabar. Woyo.... sederhana tapi luarbiasa efeknya.

1. Berdzikir
Berdzikir dapat selalu mendekatkan kita pada Allah SWT. Ketika rasa sakit dari peluru amarah menyebar tubuh dan pada saat yang bersamaan kita tetap pada alur Dzikir, insyaalloh semakin dekatlah kita kepada Sang Khaliq serta menetralkan rasa sakit akibat peluru amarah itu.
Jangan biarkan syetan menguasai diri kita. Karena ketika amarah sudah menguasai kita. Tameng kita dalam bentuk akal pikiran biasanya tidak akan dominan lagi fungsinya karena sudah dikuasai oleh amarah itu. Ketidak sehatan akal akan membawa kita semakin tercebur dalam sumur kencing syetan... naudzubillahimindzalik

2. Bermuhasabah
Bercermin... tapi tidak hanya bercermin seperti pagi-pagi ketika mau merapikan diri. Tapi ketika kita melihat apa-apa yang sudah kita lakukan selama ini. Apakah selama ini kita sudah dikatakan baik dan pasti mendapat ridho dari Allah SWT. Bukankah manusia itu sombong???. Terus mengapa kita hanya terus mengalir pada aliran kesombongan itu. Saling memberi maaf. Betapa nikmatnya ketika saling bermaaf-maafan dan perbuatan kita yang jelek dapat terleburkan dengan jabat tangan dan kata maaf terlontarka.
Okelah kalau kita mempunyai idealisme, akan tetapi bukankah idealisme itu tak berarti egois?? Dan apakah Allah tidak melihat setiap langkah dan perbuatan kita, perkataan kita, langkah kaki kita bahkan hati kita. Semuanya Allah SWT tahu kawan dan semuanya juga akan dipertanggung jawabkan nanti di padang mahsyar. 

3. Sabar
Allah bersama orang-orang yang sabar. Apa kita ga mau selalu bersama selalu dekat dengan Allah. Bukankah kecuali apa yang Dikehendaki Allah. Sesungguhnya Dia Mengetahui yang tampak dan yang tersembunyi. 
Salah satu tugas manusia adalah menjadi khalifah dibumi. Tapi sebelum itu akankah lebih baik kita sudah menjadi khalifah untuk diri kita sendiri. Akhirnya itu kembali kepada diri kita sendiri. Apakah tidak terpikirkan dengan orang-orang yang masih memberi respect kepada kita. Akankah kita menyianyiakan ukhuwah dengan keegoisan karena peluru amarah ini. Pengecut sekali jika itu terjadi. Manusia bukanlah hewan. Ya... ketika amarah itu sudah menguasai ruh dan jasad apa bedanya kita dengan hewan. Langkah perbaikan dengan jihadun nafs harus segera dibekukan ke dalam tubuh kita atau kita selamanya terperangkap dalam sakitnya peluru amarah...?? “mari berpikir dewasa”.