Kamis, 07 Agustus 2014

Air Terjun Jumog (The Lost Paradise)


Tempat wisata ini terletak di lereng Gunung Lawu sekitar 500 meter disebelah barat Candi Sukuh. Namanya air terjun Jumog. Pemandangan asri dan air yang segar akan membetahkan mata.

Berjarak sekitar 40 km ke arah timur Solo.  Jika berangkat dari arah Solo menuju Tawangmangu. Di pertigaan selepas Pasar Karangpandan, ambillah jalur ke kiri ke arah Ngargoyoso. Jalur ke kanan adalah jalur ke Tawangmangu.
Selanjutnya dari tempat parkir air terjun ini berjarak sekitar 400 m dengan berjalan kaki melewati jalan setapak berbentuk tangga turun.  Jalan setapak menuju ke air terjun ini  sudah tertata baik dengan material batu semen.

Selasa, 05 Agustus 2014

Rihlah ke Malang






















Malang bukan hanya terkenal sama tim sepakbolanya yaitu Arema atau sama buah apelnya saja. salah satu tempat yang wajib dikunjungi yaitu Jatim Park. banyak wahana permainan yang berpotensi mengocok perut pengunjungnya. Hampir mirip ma Dufan gitu deh.

Sayang hari dan tanggalnya lupa waktu kesana. Saya bersama rombongan dari Pesantren Mahasiswa Ar Royan Solo kala itu.

Kita ke malang dalam rangka agenda tahunan pesantren yaitu rihlah. Rihlah berguna untuk merefresh kita dan juga melihat keagungan alam ciptaan Allah agar kita senantiasa bersyukur.

2 rombongan bis dan mulailah kita bersama-sama bertualang.

Mentari Senja di Desaku



Alam Indonesia benar-benar luar biasa indahnya. Ga perlu jauh-jauh untuk hunting foto kalo nyari pemandangan kaya gini. Bersyukur sekali rasanya.

Kala itu masih bulan puasa H-1 lebaran. Yap, jadi tambah spesial kan? hehehe


Sore itu aku diajak seorang kerabatku pergi ke Simo ceritanya. Tapi ya berubah tujuan gitu mendadak. Kita pergi ke sawah di kampungku. kampung tempatku tumbuh dan mendapatkan banyak hal menyenangkan. Aku bisa merasakan berbagai kesedihan, marah, berkelahi, kebersamaan dan berbagai rasa-rasa kehidupan yang lain. Kampungku terletak di Karanggayam, Sumber, Simo, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia.

Alam di kampungku lengkap rasanya kalau mau menikmati segarnya alam pedesaan. Desa Sumber dulu nih katanya para orang tua filosofi penamaanny karena memang di Desa tersebut dengan mudahnya menemukan berbagai sumber-sumber kehidupan. Yap benar, aku adalah saksinya. Sumberdaya air yang melimpah. Jadi kalau kita mau cari air ga suit sama sekali.

Persawahan dan Ladang yang sangat terhampar luas. hehe,

Mau berenang ga usah cari kolam renang. cukup ke kali aja. Kali Cilik namanya. kenapa di namakan kali cilik aku kurang tahu. mungkin karena lebarnya yang ga begitu luas. aliran airnya juga bersahabat. airnyapun juga segar mengalir tanpa henti meski musim kemarau. nih fotonya.

Dulu pas kecil sering sekali main dan renang disini. pernah dulu juga pas masih TPQ/TPA karena bermain disini selepas ngaji jadinya terlambat sholat ashar dan alhasil jadi di gebukin guruku dengan rotan.

sekarang bisa juga untuk tempat ngetrak. nih buktinya.




Gitu dulu ya ceritanya. kalau ada kesempatan lagi mungkin akan saya sharekan kembali keelokan alam karunia Allah di Desaku. sekian dan terimakasih




Fresh Mood


Dapat foto keren pas makan bareng ma temen-temen PPL di bawah jembatan Jurug, Palur, Karanganyar, Solo, Indonesia.
Sotoshop beraksi..hehehe

#Natural #Segar #Indonesia

Pagi di Umbul Nilo Klaten Indonesia



Apapun yang terjadi persahabatan itu tetap hangatnya menembus hati.

Olahraga dipagi hari memang asyik apalagi kalau renang. 
Renangnya sama kawan-kawan terbaik pula.
Brrrrrr... dinginnya tak sampai kehati. karena hati sudah terlanjur hangat sama sahabat.
si Umbul Nilo ini menjadi saksi bisu kehangatan persahabatan.
  

Irama Lagu Laut Lepas


Rasa syukur senantiasa hanya tercurah untuk Allah SWT.
Bumi yang terhampar luas adalah karunia bagi kita untuk bagaimana caranya bisa mengetahui apa saja yang terdapat disana.  So... jangan ragu memulai perjalanan untuk melihat berbagai keindahan ciptaan-Nya.

Sang Saka


#PrayForIndonesia

indahnya alam Indonesia
merah putih begitu mempesona
lihatlah bendera sang saka
tertancap dan terikat di sana
deskripsi elok memudar warna
keseimbangan tak lagi terasa
merahmu tetap merona
sebagai tanda keberanian yang membara
tapi lihatlah puith sucinya
tersobek dan hilang kemana
semoga ini bukan tanda
tanda akan tidak baiknya penerus bangsa
yang tetap berani tapi mencair sucinya

Lucuti Rangkaian Yang Membelenggu

      Menjalani kehidupan di dunia ini sebagai bekal akhirat harus bisa membuat diri ini paham akan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba yang bertaqwa yang diridhai-Nya. Memulai langkah dari setiap waktu untuk berjalan dan berlari mengejar rahmat dan ridha Allah kadangkala juga perlu untuk evaluasi diri dan merenungkan apa yang terjadi. Bukan merenung hanya karena rasa penyesalan, tapi juga merenung untuk membuat kemajuan kualitas keimanan dan amal.
        Moment kala sebuah renungan ringan akan kehidupan datang pada diri seakan seperti tirai yang mampu menutupi kecintaan akan duniawi. Renungan itu akan mulai mendalam. Terbayang akan sebuah rasa tentang apa yang pernah terbuat oleh tubuh, hati dan pikiran diri ini.
Setiap orang itu unik. Termasuk dalam merenung untuk perbaikan dirinya. Mungkin ada orang yang bertanya kepada dirinya dengan hati yang terdalam dan kemudian mencari jawaban atas kegusarannya. Bertanya kepada dirinya sendiri. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan seperti dibawah ini, lantas mencoba mencari solusi atas masalah itu dengan kebenaran agama yang tertata oleh kepekaan ruhani dan wawasan ilmu mendalam.
  
“Sahabatku, aku ingin bertanya padamu. apakah aku ini sudah benar-benar menjadi manusia? Manusia sesuai dengan fitrahnya mengapa dia diciptakan didunia ini? Apa aku malah seperti orang-orang yang diberikan kesempitan oleh Allah karena keingkarannya. Mereka sulit mendapatkan rahmat Allah.  Dan aku hanya bisa berkaca dan mencoba mengenal diriku lebih dalam lagi untuk berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri baik pikiran, jiwa dan tubuh hanya kepada Allah, patuh dengan perintah Nabi-Nya, bangga dengan Islam dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman serta tidak meninggalkan dan meremehkan jihad. Aku harus bisa semampuku. Aku juga berusaha untuk menjaga ibadahku agar tidak naik turun layaknya kefuturan karena keistiqomahan dan keberjenjangan dalam beribadah sudah kusadari terlebih dahulu. Lantas  jika ada permasalahan aku akan bagaimana menghadapinya?apakah aku akan berlari untuk menghindarinya? Ataukah aku tetap berdiri tegap penuh kesadaran untuk melawan amukan badai masalah itu?”

        Menyadari jika islam adalah agama fitrah sangatlah penting. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya. Beliau menuliskan dalam bukunya jika islam adalah agama fitrah. Islam adalah agama yang sesuai dengan watak dan kecenderungan alami manusia. Ajaran islam yang meliputi seluruh sendi kehidupan sangat selaras dengan tabiat yang murni dan pemikiran yang lurus. Panduan dan bimbingan yang memancar dari prinsip-prinsip dasarnya (ushul) mengarahkan menusia menuju kesempurnaan dan kedamaian jiwa.
        Lebih lanjut lagi beliau juga menerangkan mengenai kata “fitrah” itu sendiri. Kata “fitrah” berdiri sendiri, tak ada pengertian baginya selain fitrah salimah atau fitrah yang baik atau tabiat alami yang murni. Setiap cela atau cacat yang melekat pada tabiat, penyebabnya bukanlah tabiat itu sendiri, melainkan factor dan hal lain yang memengaruhi dan mengubahnya menjadi kurang atau cacat. Diumpamakan seperti janin seharusnya keluar dari perut ibunya dalam keadaan normal tanpa cacat. Jika dia lahir dengan keadaan tidak semestinya seperti buta karena factor turunan maka kebutaan itu merupakan kejadian aneh diluar tabiat dan menyalahi fitrah. Contoh lain misalnya seperti buah-buahan. Semestinya buah-buahan dipetik dalam keadaan bebas dari cacat akibat serangan dari serangga atau hama lainnya. Maka agar buah itu sehat seperti tabiatnya maka petani harus menanam dengan benih yang bagus dan perawatan yang baik agar sesuai kehendak Allah, yaitu panenan yang bebas dari segala cacat dan kekurangan.
     Tidak heran jika kita sering menemukan orang yang perkataannya didengar oleh orang lain karena memiliki akal dan jiwa yang sehat, perangai yang seimbang dan watak yang sempurna. Maka ketika ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah dan kemudian dijawab dengan “mintalah fatwa pada hatimu”. Rasulullah tidak memaksudkan sabdanya itu bagi pendosa yang menghalalkan darah orang lain, pemakan hak orang lain, atau orang yang kerap melakukan dosa besar.
     Namun, jawaban itu ditujukan kepada orang yang berduka setelah melakukan dosa kecil, orang yang selamat fitrahnya dan/atau orang yang selalu ingin melakukan kebaikan.
Jika kita mencermati warisan berbagai generasi manusia dari beragam peradaban yang berbeda-beda di barat atau timur. Kita akan melihat mereka (pemilik fitrah yang baik) melahirkan mutiara hikmah dan warisan yang berharga.
       Kita sekarang hidup di zaman yang penuh fitnah dan kezaliman. Yang kata banyak orang “maling teriak maling” dan tidak jelasnya mana yang hitam dan mana yang putih. Sedikit demi sedikit harus mulai menyadarkan minimal diri sendiri dan meningkat ke orang lain sesuai kemampuan. Berusaha untuk membuat keajaiban dari lincahnya tangan, indahnya tutur kata dan sucinya pikiran.
Mungkin hal itu sangat sulit dilakukan. Tapi kita harus tetap yakin karena Allah sesuai persangkaan hambanya.
       Berusaha untuk menjadi pribadi muslim yang memiliki wawasan mendalam serta kepekaan ruhani dan penuh rasa ikhlas untuk mengamalkannya.

Ya tuhanku berikanlah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan (QS  Asy-Syu’ara (26) : 83-85)


Kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui (QS  Al Ankabut(29) : 64)

Senin, 04 Agustus 2014

Lautan Parodi Kemenangan (chapter 2)


          Pada saat itu aku benar-benar serasa hancur. Pujaan hatiku pergi dari angan dan kenyataanku dan aku juga tak punya pekerjaan lagi. Hampir selama satu bulan aku melanjutkan hidup dari penghasilan ibuku sebagai pedagang nasi pecel di warung kecilnya. Jiwaku masih terguncang dengan peristiwa-peristiwa yang telah kualami setelah kecelakaan. Sampai saat itupun aku masih belum bisa bangkit. Tabunganku sudah habis untuk biaya dirumah sakit. Jadi seakan sudah habislah hidupku yang baru berusia 24 tahun ini. Harusnya ini adalah usia produktif diriku, Prasetyo si anak tunggal yang kini buntung satu kakinya sampai lutut saja.
        Nestapa belumlah berakhir. Selang beberapa minggu ibuku meninggal diusianya yang menginjak 67 tahun. Belum habis sedihku dengan peristiwa yang lalu. Sekarang malahan ditambahkan oleh Tuhan dengan mengambil ibuku. Tubuhku sudah semakin terasa tak bernyawa lagi. Putus asa menggerayangi dan hampir aku bunuh diri karena hal itu, hanya saja perasaan ini masih bisa kutahan. Sejak itupun aku sedikit demi sedikit menjauh dari Sang Pencipta yaitu Allah Azzawajalla. Aku merasa Dia sudah tidak adil lagi denganku. Sholat dan ibadah lainnyapun mulai kutinggalkan.
        Disaat yang lain aku mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat usaha. Ada mebel, kerajinan kayu ataupun di toko-toko. Tapi hasilnya nihil. Mereka tidak membutuhkan orang dengan salah satu kakinya hanya sampai lutut ini. Aku masih terus mencoba dan mencoba. Sampai pada akhirnya lika-liku itu berakhir dan hidupku mulai dijalanan. Aku terdesak dengan kebutuhan untuk menyambung hidup. Aku tidak punya uang lagi. Lantas menjadi pengemislah diri ini karena memang rasa putus asa sudah menjalar ke sebagian besar otak, jiwa maupun raga.  Kulalui hari-hari menjadi pengemis di perempatan lalu lintas yang jaraknya tidak jauh dari kampungku, Desa Sumber kecmatan Banyuanyar Solo. Bahkan menjadi pengemis ini adalah pekerjaan terlama yang pernah ku geluti selama ini.
        Sore itu aku mencoba meminta-minta di sekitar Stadion Manahan. Tapi langkahku seakan menjadi pintu gerbang dengan seorang gadis bernama Diana. Pertemuan dengan Diana di depan stadion Manahan saat itu benar-benar telah membuatku seakan harus mempunyai paradigma kehidupan yang mesti diperbaiki. Sebuah pertemuan karena krek yang kupakai tiba-tiba terpleset dan akupun terjatuh. Dan selanjutnya datanglah Diana yang menolongku. Si gadis ini memang setiap harinya pada jam 1 sampai jam 3 sore mengajari anak-anak jalanan di sekitar Manahan dan sekitarnya untuk membaca dan menulis. Diana mempunyai cita-cita mulia sebagai seorang guru.
         Lantas ketika itu dia mengajakku untuk duduk istirahat di sebuah bangku dan mulailah kita berbincang-bincang. Anehnya aku mau saja diajaknya. Tapi aku ada rasa terimakasih dengannya. Diana memberiku minum dari botol air kemasan yang dia bawa. Segar sekali tenggorokan yang sudah mengering ini. Lanjut ke bagian berikutnya dari mulai perkenalan hingga pada akhirnya kita sama-sama mulai akrab dan terbuka satu sama lain. Diana seorang gadis berusia 14 tahun yang putus sekolah sejak 1 tahun lalu ini mulai menceritakan tentang dirinya secara terbuka. Dia putus sekolah karena sudah tidak ada biaya untuk hidupnya. Penyebabnya adalah ayahnya telah meninggal dunia waktu itu. Sang ibu juga telah meninggal ketika usia Diana masih 4 tahun karena Anemia.  Pada suatu titik dia menyebutkan nama seseorang yang rasa-rasanya sebuah nama itu tidak asing bagiku yaitu Paryono. Dia mengatakan bahwa paryono adalah ayahnya yang meninggal 2 tahun lalu karena jatuh dari motornya alias kecelakaan. “Ayahku ketika itu bekerja di sebuah proyek bangunan di daerah Jebres dekat UNS”. Diriku mulai terperanjat karena penjelasan Diana. Hal itu tidak aneh sebabnya 2 tahun yang lalu aku juga bekerja di tempat yang sama dengan ayahnya. Aku semakin tambah ingin tahu tentang Paryono yang diceritakan Diana sebagai ayahnya itu. Aku mulai banyak bertanya dengan lika-liku pertanyaan mengenai Paryono dan akhirnya benar. Paryono ini adalah rekan kerjaku dulu. Seorang paryono yang dulunya pernah menjadi objek segala doa yang penuh dengan amarah dan dendam dariku. Kini Diana si gadis jelita mulai hidup sebatang kara. Diana tinggal di sebuah yayasan yatim piatu dan tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia juga sudah tidak mempunyai kerabat atau saudara lagi. Sehingga ada seorang tetangga yang merasa empati kemudian membawanya ke yayasan yatim piatu agar Diana tetap melanjutkan hidupnya.
       “Dek berarti Bapakmu adalah rekan kerjaku dulu”. Mulutku mulai tak bisa berkata apa-apa lagi. “Benarkah itu mas?”. “yah… benar sekali” sahutku. “saat kecelakaan itu terjadi bapak habis mengantarku dari sekolah. Bapak tidak sempat sarapan pagi itu. Jatah nasi hanya cukup untukku saja dan bapak merelakan untuk tidak makan sesuappun. Bahkan beliau juga tidak minum segelas air saat itu. Mungkin itu adalah penyebab bapak kecelakaan tapi aku juga tidak tahu”. Dalam hatiku mulai berbisik semiskinkah itu keluarga ini. Sampai Paryono tidak sarapan waktu itu. “ Motor butut yang dibawa bapak adalah pemberian dari almarhum Pakdhe Tono, kakak bapak. Pakdhe iba sekali dengan kehidupan keluarga kami meski Pakdhe hanya seorang tukang parkir. Sebenarnya lagi hampir setiap harinya ketika berangkat bekerja bapak tidak pernah sarapan untuk mengganjal perut kecilnya”. Aku masih belum bisa berbicara untuk membalas perkataannya. “sejak ibu meninggal, bapak dengan sekuat tenaga terus merawatku hingga besar. Berbagai hal yang penuh dengan kesusah payahan kami lewati berdua. Bapak itu sangat baik sekali. Meski kita kekurangan tapi bapak sering membagikan uangnya yang tak seberapa ke orang-orang yang lebih membutuhkan dari kita. Bapak mengajarkanku untuk selalu dekat dengan Allah dalam keadaan apapun dan tetap berbagi dengan sesama. Aku tidak pernah melihat wajah bapak yang murung atau sedih menyesali hidupnya. Bapak selalu tersenyum dan bersyukur dengan apapun pemberian Allah. Bapakku adalah inspirasiku”  lanjut penjelasan Diana. Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Dalam hatiku berbisik “apa yang aku lakukan dulu, aku mendoakan agar seorang bapak yang baik ini celaka gara-gara ketidak sengajaannya mengakibatkan kakiku kiriku harus diamputasi”.
         Dari pertemuan tersebut dan dengan kisah yang diceritakannya benar-benar membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku terus berpikir dan berkaca memikirkan diriku dan keadaan yang dialami Diana setelah Paryono meninggal. Sampai pagipun aku masih mengalami hal yang sama. Dan sekarang aku mulai melakukan aktifitas sehari-hariku. Meski hari ini jam baru menunjukkan sekitar pukul 10.00 pagi, tapi karena hatiku terus bergejolak dengan ketidak tenangan saat meminta-minta maka kuputuskan untuk pergi pulang saja. Aku berjalan dengan kaki pincangku ini dan tiba-tiba dengan mendadak aku mengucapkan “Astaghfirullahaladzim”. Sebuah kata-kata yang mulai menuntunku kembali pada tujuan mengapa manusia diciptakan di dunia yaitu untuk menyembah Allah. Pada detik ini aku sudah mulai berazam untuk mengubah hidup sesatku ini. “Aku harus optimis. Aku harus berhenti menjadi pengemis dan aku harus bermanfaat bagi orang lain. Pincang bukanlah masalah”.
          Otakku yang lama membeku mulai bisa berjalan dengan sehat lagi. “Bisa apa saja aku selanjutnya? Seorang pincang dengan ijazah STM di riwayat pendidikan terakhirnya”.  Terbesit dalam pikiran secara tiba-tiba dengan keadaan Diana yang sudah tidak menikmati pendidikan formal di Sekolah. Atau anak-anak jalanan dan anak-anak miskin yang sudah tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Diantara anak-anak jalanan itu juga ada yang mengalami hal yang tak jauh beda denganku yaitu kehilangan anggota tubuhnya. Atau anak-anak yang terjebak dalam dinamika arus zaman gila ini. Mereka mengatasnamakan persaudaraan dalam ikatan yang disebut Punk. Disisi yang lain mengapa juga banyak orang-orang yang sukses dan berprestasi. Lantas anak-anak tersebut harus diapakan agar masih dapat menikmati usianya. Kemudian pertanyaannya apakah mereka masih ingat dengan yang namanya pendidikan. Buat apa sekolah-sekolah itu masih berdiri tegak jika masih bisa ditemui anak-anak yang masih belum manikmati pendidikan. Usia belia yang harusnya masih mengikat mereka untuk sekolah agar menjadi tulang punggung bangsa yang hebat. Fenomena seperti itu pasti tidak hanya terjadi di kota ini saja.

       Akan kubuat rencana kedepan untuk diriku dan masa depan pendidikan anak-anak itu. Meski aku bukanlah pejabat atau presiden, tapi aku adalah tetap seorang yang harus bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “Terimakasih ya Allah.engkau mempertemukanku dengan gadis itu. Diana, kau telah membuka mataku. Jika aku sudah dalam keadaan yang lebih baik esok aku akan menemuimu. Aku akan mengatakan tentang diriku dan ayahmu apapun konsekuensinya, termasuk jika kau bahkan membenciku. Tapi aku tak akan membencimu. Kemudian aku akan mengembalikan hakmu untuk mendapatkan pendidikan di sekolah. Kau menyadarkanku dengan ketabahan dan kegiatanmu mengajar anak-anak jalanan selama ini. Diana, sekarang aku tahu bahwa pendidikan itu adalah awal dari berbagai dimensi kehidupan yang lain. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah untuk semua”.