Menjalani
kehidupan di dunia ini sebagai bekal akhirat harus bisa membuat diri ini paham
akan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba yang bertaqwa yang diridhai-Nya. Memulai
langkah dari setiap waktu untuk berjalan dan berlari mengejar rahmat dan ridha
Allah kadangkala juga perlu untuk evaluasi diri dan merenungkan apa yang
terjadi. Bukan merenung hanya karena rasa penyesalan, tapi juga merenung untuk
membuat kemajuan kualitas keimanan dan amal.
Moment
kala sebuah renungan ringan akan kehidupan datang pada diri seakan seperti
tirai yang mampu menutupi kecintaan akan duniawi. Renungan itu akan mulai
mendalam. Terbayang akan sebuah rasa tentang apa yang pernah terbuat oleh tubuh,
hati dan pikiran diri ini.
Setiap
orang itu unik. Termasuk dalam merenung untuk perbaikan dirinya. Mungkin ada
orang yang bertanya kepada dirinya dengan hati yang terdalam dan kemudian
mencari jawaban atas kegusarannya. Bertanya kepada dirinya sendiri. Mungkin dengan
pertanyaan-pertanyaan seperti dibawah ini, lantas mencoba mencari solusi atas
masalah itu dengan kebenaran agama yang tertata oleh kepekaan ruhani dan
wawasan ilmu mendalam.
“Sahabatku, aku
ingin bertanya padamu. apakah aku ini sudah benar-benar menjadi manusia? Manusia
sesuai dengan fitrahnya mengapa dia diciptakan didunia ini? Apa aku malah seperti
orang-orang yang diberikan kesempitan oleh Allah karena keingkarannya. Mereka sulit
mendapatkan rahmat Allah. Dan aku hanya
bisa berkaca dan mencoba mengenal diriku lebih dalam lagi untuk berusaha
memperbaiki diri dan mendekatkan diri baik pikiran, jiwa dan tubuh hanya kepada
Allah, patuh dengan perintah Nabi-Nya, bangga dengan Islam dan menjadikan Al
Quran sebagai pedoman serta tidak meninggalkan dan meremehkan jihad. Aku harus
bisa semampuku. Aku juga berusaha untuk menjaga ibadahku agar tidak naik turun
layaknya kefuturan karena keistiqomahan dan keberjenjangan dalam beribadah sudah
kusadari terlebih dahulu. Lantas jika
ada permasalahan aku akan bagaimana menghadapinya?apakah aku akan berlari untuk
menghindarinya? Ataukah aku tetap berdiri tegap penuh kesadaran untuk melawan
amukan badai masalah itu?”
Menyadari
jika islam adalah agama fitrah sangatlah penting. Seperti apa yang pernah
disampaikan oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya. Beliau menuliskan dalam
bukunya jika islam adalah agama fitrah. Islam adalah agama yang sesuai dengan
watak dan kecenderungan alami manusia. Ajaran islam yang meliputi seluruh sendi
kehidupan sangat selaras dengan tabiat yang murni dan pemikiran yang lurus. Panduan
dan bimbingan yang memancar dari prinsip-prinsip dasarnya (ushul) mengarahkan menusia menuju kesempurnaan dan kedamaian jiwa.
Lebih
lanjut lagi beliau juga menerangkan mengenai kata “fitrah” itu sendiri. Kata “fitrah”
berdiri sendiri, tak ada pengertian baginya selain fitrah salimah atau fitrah
yang baik atau tabiat alami yang murni. Setiap cela atau cacat yang melekat
pada tabiat, penyebabnya bukanlah tabiat itu sendiri, melainkan factor dan hal
lain yang memengaruhi dan mengubahnya menjadi kurang atau cacat. Diumpamakan seperti
janin seharusnya keluar dari perut ibunya dalam keadaan normal tanpa cacat. Jika
dia lahir dengan keadaan tidak semestinya seperti buta karena factor turunan
maka kebutaan itu merupakan kejadian aneh diluar tabiat dan menyalahi fitrah. Contoh
lain misalnya seperti buah-buahan. Semestinya buah-buahan dipetik dalam keadaan
bebas dari cacat akibat serangan dari serangga atau hama lainnya. Maka agar buah
itu sehat seperti tabiatnya maka petani harus menanam dengan benih yang bagus
dan perawatan yang baik agar sesuai kehendak Allah, yaitu panenan yang bebas
dari segala cacat dan kekurangan.
Tidak
heran jika kita sering menemukan orang yang perkataannya didengar oleh orang lain
karena memiliki akal dan jiwa yang sehat, perangai yang seimbang dan watak yang
sempurna. Maka ketika ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah dan kemudian
dijawab dengan “mintalah fatwa pada hatimu”. Rasulullah tidak memaksudkan
sabdanya itu bagi pendosa yang menghalalkan darah orang lain, pemakan hak orang
lain, atau orang yang kerap melakukan dosa besar.
Namun,
jawaban itu ditujukan kepada orang yang berduka setelah melakukan dosa kecil,
orang yang selamat fitrahnya dan/atau orang yang selalu ingin melakukan
kebaikan.
Jika
kita mencermati warisan berbagai generasi manusia dari beragam peradaban yang
berbeda-beda di barat atau timur. Kita akan melihat mereka (pemilik fitrah yang
baik) melahirkan mutiara hikmah dan warisan yang berharga.
Kita
sekarang hidup di zaman yang penuh fitnah dan kezaliman. Yang kata banyak orang
“maling teriak maling” dan tidak jelasnya mana yang hitam dan mana yang putih. Sedikit
demi sedikit harus mulai menyadarkan minimal diri sendiri dan meningkat ke
orang lain sesuai kemampuan. Berusaha untuk membuat keajaiban dari lincahnya
tangan, indahnya tutur kata dan sucinya pikiran.
Mungkin
hal itu sangat sulit dilakukan. Tapi kita harus tetap yakin karena Allah sesuai
persangkaan hambanya.
Berusaha
untuk menjadi pribadi muslim yang memiliki wawasan mendalam serta kepekaan
ruhani dan penuh rasa ikhlas untuk mengamalkannya.
Ya tuhanku
berikanlah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang saleh, dan
jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian, dan
jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan
(QS Asy-Syu’ara (26) : 83-85)
Kehidupan dunia ini hanya senda-gurau
dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya
mereka mengetahui (QS Al Ankabut(29) :
64)