Pada saat itu aku benar-benar serasa hancur. Pujaan
hatiku pergi dari angan dan kenyataanku dan aku juga tak punya pekerjaan lagi.
Hampir selama satu bulan aku melanjutkan hidup dari penghasilan ibuku sebagai
pedagang nasi pecel di warung kecilnya. Jiwaku masih terguncang dengan
peristiwa-peristiwa yang telah kualami setelah kecelakaan. Sampai saat itupun
aku masih belum bisa bangkit. Tabunganku sudah habis untuk biaya dirumah sakit.
Jadi seakan sudah habislah hidupku yang baru berusia 24 tahun ini. Harusnya ini
adalah usia produktif diriku, Prasetyo si anak tunggal yang kini buntung satu
kakinya sampai lutut saja.
Nestapa belumlah berakhir. Selang beberapa minggu
ibuku meninggal diusianya yang menginjak 67 tahun. Belum habis sedihku dengan
peristiwa yang lalu. Sekarang malahan ditambahkan oleh Tuhan dengan mengambil
ibuku. Tubuhku sudah semakin terasa tak bernyawa lagi. Putus asa menggerayangi
dan hampir aku bunuh diri karena hal itu, hanya saja perasaan ini masih bisa
kutahan. Sejak itupun aku sedikit demi sedikit menjauh dari Sang Pencipta yaitu
Allah Azzawajalla. Aku merasa Dia sudah tidak adil lagi denganku. Sholat dan
ibadah lainnyapun mulai kutinggalkan.
Disaat yang lain aku mencoba melamar pekerjaan ke
beberapa tempat usaha. Ada mebel, kerajinan kayu ataupun di toko-toko. Tapi
hasilnya nihil. Mereka tidak membutuhkan orang dengan salah satu kakinya hanya
sampai lutut ini. Aku masih terus mencoba dan mencoba. Sampai pada akhirnya lika-liku
itu berakhir dan hidupku mulai dijalanan. Aku terdesak dengan kebutuhan untuk
menyambung hidup. Aku tidak punya uang lagi. Lantas menjadi pengemislah diri
ini karena memang rasa putus asa sudah menjalar ke sebagian besar otak, jiwa
maupun raga. Kulalui hari-hari menjadi
pengemis di perempatan lalu lintas yang jaraknya tidak jauh dari kampungku,
Desa Sumber kecmatan Banyuanyar Solo. Bahkan menjadi pengemis ini adalah
pekerjaan terlama yang pernah ku geluti selama ini.
Sore itu aku mencoba meminta-minta di sekitar Stadion
Manahan. Tapi langkahku seakan menjadi pintu gerbang dengan seorang gadis
bernama Diana. Pertemuan dengan Diana di depan stadion Manahan saat itu
benar-benar telah membuatku seakan harus mempunyai paradigma kehidupan yang
mesti diperbaiki. Sebuah pertemuan karena krek yang kupakai tiba-tiba terpleset
dan akupun terjatuh. Dan selanjutnya datanglah Diana yang menolongku. Si gadis
ini memang setiap harinya pada jam 1 sampai jam 3 sore mengajari anak-anak
jalanan di sekitar Manahan dan sekitarnya untuk membaca dan menulis. Diana
mempunyai cita-cita mulia sebagai seorang guru.
Lantas ketika itu dia mengajakku untuk duduk
istirahat di sebuah bangku dan mulailah kita berbincang-bincang. Anehnya aku
mau saja diajaknya. Tapi aku ada rasa terimakasih dengannya. Diana memberiku
minum dari botol air kemasan yang dia bawa. Segar sekali tenggorokan yang sudah
mengering ini. Lanjut ke bagian berikutnya dari mulai perkenalan hingga pada
akhirnya kita sama-sama mulai akrab dan terbuka satu sama lain. Diana seorang
gadis berusia 14 tahun yang putus sekolah sejak 1 tahun lalu ini mulai
menceritakan tentang dirinya secara terbuka. Dia putus sekolah karena sudah
tidak ada biaya untuk hidupnya. Penyebabnya adalah ayahnya telah meninggal
dunia waktu itu. Sang ibu juga telah meninggal ketika usia Diana masih 4 tahun
karena Anemia. Pada suatu titik dia
menyebutkan nama seseorang yang rasa-rasanya sebuah nama itu tidak asing bagiku
yaitu Paryono. Dia mengatakan bahwa paryono adalah ayahnya yang meninggal 2
tahun lalu karena jatuh dari motornya alias kecelakaan. “Ayahku ketika itu bekerja di sebuah proyek bangunan di daerah Jebres
dekat UNS”. Diriku mulai terperanjat karena penjelasan Diana. Hal itu tidak
aneh sebabnya 2 tahun yang lalu aku juga bekerja di tempat yang sama dengan
ayahnya. Aku semakin tambah ingin tahu tentang Paryono yang diceritakan Diana
sebagai ayahnya itu. Aku mulai banyak bertanya dengan lika-liku pertanyaan mengenai
Paryono dan akhirnya benar. Paryono ini adalah rekan kerjaku dulu. Seorang
paryono yang dulunya pernah menjadi objek segala doa yang penuh dengan amarah
dan dendam dariku. Kini Diana si gadis jelita mulai hidup sebatang kara. Diana
tinggal di sebuah yayasan yatim piatu dan tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia
juga sudah tidak mempunyai kerabat atau saudara lagi. Sehingga ada seorang
tetangga yang merasa empati kemudian membawanya ke yayasan yatim piatu agar
Diana tetap melanjutkan hidupnya.
“Dek berarti Bapakmu adalah rekan kerjaku dulu”. Mulutku mulai tak bisa berkata apa-apa lagi. “Benarkah itu mas?”. “yah… benar sekali”
sahutku. “saat kecelakaan itu terjadi
bapak habis mengantarku dari sekolah. Bapak tidak sempat sarapan pagi itu.
Jatah nasi hanya cukup untukku saja dan bapak merelakan untuk tidak makan
sesuappun. Bahkan beliau juga tidak minum segelas air saat itu. Mungkin itu
adalah penyebab bapak kecelakaan tapi aku juga tidak tahu”. Dalam hatiku
mulai berbisik semiskinkah itu keluarga ini. Sampai Paryono tidak sarapan waktu
itu. “ Motor butut yang dibawa bapak
adalah pemberian dari almarhum Pakdhe Tono, kakak bapak. Pakdhe iba sekali
dengan kehidupan keluarga kami meski Pakdhe hanya seorang tukang parkir.
Sebenarnya lagi hampir setiap harinya ketika berangkat bekerja bapak tidak pernah
sarapan untuk mengganjal perut kecilnya”. Aku masih belum bisa berbicara
untuk membalas perkataannya. “sejak ibu
meninggal, bapak dengan sekuat tenaga terus merawatku hingga besar. Berbagai
hal yang penuh dengan kesusah payahan kami lewati berdua. Bapak itu sangat baik
sekali. Meski kita kekurangan tapi bapak sering membagikan uangnya yang tak
seberapa ke orang-orang yang lebih membutuhkan dari kita. Bapak mengajarkanku
untuk selalu dekat dengan Allah dalam keadaan apapun dan tetap berbagi dengan
sesama. Aku tidak pernah melihat wajah bapak yang murung atau sedih menyesali
hidupnya. Bapak selalu tersenyum dan bersyukur dengan apapun pemberian Allah.
Bapakku adalah inspirasiku” lanjut
penjelasan Diana. Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Dalam hatiku
berbisik “apa yang aku lakukan dulu, aku
mendoakan agar seorang bapak yang baik ini celaka gara-gara ketidak
sengajaannya mengakibatkan kakiku kiriku harus diamputasi”.
Dari pertemuan tersebut dan dengan kisah yang
diceritakannya benar-benar membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku terus
berpikir dan berkaca memikirkan diriku dan keadaan yang dialami Diana setelah
Paryono meninggal. Sampai pagipun aku masih mengalami hal yang sama. Dan
sekarang aku mulai melakukan aktifitas sehari-hariku. Meski hari ini jam baru
menunjukkan sekitar pukul 10.00 pagi, tapi karena hatiku terus bergejolak
dengan ketidak tenangan saat meminta-minta maka kuputuskan untuk pergi pulang
saja. Aku berjalan dengan kaki pincangku ini dan tiba-tiba dengan mendadak aku
mengucapkan “Astaghfirullahaladzim”.
Sebuah kata-kata yang mulai menuntunku kembali pada tujuan mengapa manusia
diciptakan di dunia yaitu untuk menyembah Allah. Pada detik ini aku sudah mulai
berazam untuk mengubah hidup sesatku ini. “Aku
harus optimis. Aku harus berhenti menjadi pengemis dan aku harus bermanfaat
bagi orang lain. Pincang bukanlah masalah”.
Otakku yang lama membeku mulai bisa berjalan dengan
sehat lagi. “Bisa apa saja aku
selanjutnya? Seorang pincang dengan ijazah STM di riwayat pendidikan
terakhirnya”. Terbesit dalam pikiran
secara tiba-tiba dengan keadaan Diana yang sudah tidak menikmati pendidikan
formal di Sekolah. Atau anak-anak jalanan dan anak-anak miskin yang sudah tidak
pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Diantara anak-anak jalanan itu juga
ada yang mengalami hal yang tak jauh beda denganku yaitu kehilangan anggota
tubuhnya. Atau anak-anak yang terjebak dalam dinamika arus zaman gila ini.
Mereka mengatasnamakan persaudaraan dalam ikatan yang disebut Punk. Disisi yang
lain mengapa juga banyak orang-orang yang sukses dan berprestasi. Lantas
anak-anak tersebut harus diapakan agar masih dapat menikmati usianya. Kemudian pertanyaannya
apakah mereka masih ingat dengan yang namanya pendidikan. Buat apa
sekolah-sekolah itu masih berdiri tegak jika masih bisa ditemui anak-anak yang
masih belum manikmati pendidikan. Usia belia yang harusnya masih mengikat
mereka untuk sekolah agar menjadi tulang punggung bangsa yang hebat. Fenomena
seperti itu pasti tidak hanya terjadi di kota ini saja.
Akan kubuat rencana kedepan untuk diriku dan masa
depan pendidikan anak-anak itu. Meski aku bukanlah pejabat atau presiden, tapi
aku adalah tetap seorang yang harus bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri
dan orang lain. “Terimakasih ya Allah.engkau
mempertemukanku dengan gadis itu. Diana, kau telah membuka mataku. Jika aku
sudah dalam keadaan yang lebih baik esok aku akan menemuimu. Aku akan mengatakan
tentang diriku dan ayahmu apapun konsekuensinya, termasuk jika kau bahkan
membenciku. Tapi aku tak akan membencimu. Kemudian aku akan mengembalikan hakmu
untuk mendapatkan pendidikan di sekolah. Kau menyadarkanku dengan ketabahan dan
kegiatanmu mengajar anak-anak jalanan selama ini. Diana, sekarang aku tahu
bahwa pendidikan itu adalah awal dari berbagai dimensi kehidupan yang lain. Setiap
orang berhak mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah untuk semua”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar