Senin, 04 Agustus 2014

Lautan Parodi Kemenangan (chapter 2)


          Pada saat itu aku benar-benar serasa hancur. Pujaan hatiku pergi dari angan dan kenyataanku dan aku juga tak punya pekerjaan lagi. Hampir selama satu bulan aku melanjutkan hidup dari penghasilan ibuku sebagai pedagang nasi pecel di warung kecilnya. Jiwaku masih terguncang dengan peristiwa-peristiwa yang telah kualami setelah kecelakaan. Sampai saat itupun aku masih belum bisa bangkit. Tabunganku sudah habis untuk biaya dirumah sakit. Jadi seakan sudah habislah hidupku yang baru berusia 24 tahun ini. Harusnya ini adalah usia produktif diriku, Prasetyo si anak tunggal yang kini buntung satu kakinya sampai lutut saja.
        Nestapa belumlah berakhir. Selang beberapa minggu ibuku meninggal diusianya yang menginjak 67 tahun. Belum habis sedihku dengan peristiwa yang lalu. Sekarang malahan ditambahkan oleh Tuhan dengan mengambil ibuku. Tubuhku sudah semakin terasa tak bernyawa lagi. Putus asa menggerayangi dan hampir aku bunuh diri karena hal itu, hanya saja perasaan ini masih bisa kutahan. Sejak itupun aku sedikit demi sedikit menjauh dari Sang Pencipta yaitu Allah Azzawajalla. Aku merasa Dia sudah tidak adil lagi denganku. Sholat dan ibadah lainnyapun mulai kutinggalkan.
        Disaat yang lain aku mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat usaha. Ada mebel, kerajinan kayu ataupun di toko-toko. Tapi hasilnya nihil. Mereka tidak membutuhkan orang dengan salah satu kakinya hanya sampai lutut ini. Aku masih terus mencoba dan mencoba. Sampai pada akhirnya lika-liku itu berakhir dan hidupku mulai dijalanan. Aku terdesak dengan kebutuhan untuk menyambung hidup. Aku tidak punya uang lagi. Lantas menjadi pengemislah diri ini karena memang rasa putus asa sudah menjalar ke sebagian besar otak, jiwa maupun raga.  Kulalui hari-hari menjadi pengemis di perempatan lalu lintas yang jaraknya tidak jauh dari kampungku, Desa Sumber kecmatan Banyuanyar Solo. Bahkan menjadi pengemis ini adalah pekerjaan terlama yang pernah ku geluti selama ini.
        Sore itu aku mencoba meminta-minta di sekitar Stadion Manahan. Tapi langkahku seakan menjadi pintu gerbang dengan seorang gadis bernama Diana. Pertemuan dengan Diana di depan stadion Manahan saat itu benar-benar telah membuatku seakan harus mempunyai paradigma kehidupan yang mesti diperbaiki. Sebuah pertemuan karena krek yang kupakai tiba-tiba terpleset dan akupun terjatuh. Dan selanjutnya datanglah Diana yang menolongku. Si gadis ini memang setiap harinya pada jam 1 sampai jam 3 sore mengajari anak-anak jalanan di sekitar Manahan dan sekitarnya untuk membaca dan menulis. Diana mempunyai cita-cita mulia sebagai seorang guru.
         Lantas ketika itu dia mengajakku untuk duduk istirahat di sebuah bangku dan mulailah kita berbincang-bincang. Anehnya aku mau saja diajaknya. Tapi aku ada rasa terimakasih dengannya. Diana memberiku minum dari botol air kemasan yang dia bawa. Segar sekali tenggorokan yang sudah mengering ini. Lanjut ke bagian berikutnya dari mulai perkenalan hingga pada akhirnya kita sama-sama mulai akrab dan terbuka satu sama lain. Diana seorang gadis berusia 14 tahun yang putus sekolah sejak 1 tahun lalu ini mulai menceritakan tentang dirinya secara terbuka. Dia putus sekolah karena sudah tidak ada biaya untuk hidupnya. Penyebabnya adalah ayahnya telah meninggal dunia waktu itu. Sang ibu juga telah meninggal ketika usia Diana masih 4 tahun karena Anemia.  Pada suatu titik dia menyebutkan nama seseorang yang rasa-rasanya sebuah nama itu tidak asing bagiku yaitu Paryono. Dia mengatakan bahwa paryono adalah ayahnya yang meninggal 2 tahun lalu karena jatuh dari motornya alias kecelakaan. “Ayahku ketika itu bekerja di sebuah proyek bangunan di daerah Jebres dekat UNS”. Diriku mulai terperanjat karena penjelasan Diana. Hal itu tidak aneh sebabnya 2 tahun yang lalu aku juga bekerja di tempat yang sama dengan ayahnya. Aku semakin tambah ingin tahu tentang Paryono yang diceritakan Diana sebagai ayahnya itu. Aku mulai banyak bertanya dengan lika-liku pertanyaan mengenai Paryono dan akhirnya benar. Paryono ini adalah rekan kerjaku dulu. Seorang paryono yang dulunya pernah menjadi objek segala doa yang penuh dengan amarah dan dendam dariku. Kini Diana si gadis jelita mulai hidup sebatang kara. Diana tinggal di sebuah yayasan yatim piatu dan tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia juga sudah tidak mempunyai kerabat atau saudara lagi. Sehingga ada seorang tetangga yang merasa empati kemudian membawanya ke yayasan yatim piatu agar Diana tetap melanjutkan hidupnya.
       “Dek berarti Bapakmu adalah rekan kerjaku dulu”. Mulutku mulai tak bisa berkata apa-apa lagi. “Benarkah itu mas?”. “yah… benar sekali” sahutku. “saat kecelakaan itu terjadi bapak habis mengantarku dari sekolah. Bapak tidak sempat sarapan pagi itu. Jatah nasi hanya cukup untukku saja dan bapak merelakan untuk tidak makan sesuappun. Bahkan beliau juga tidak minum segelas air saat itu. Mungkin itu adalah penyebab bapak kecelakaan tapi aku juga tidak tahu”. Dalam hatiku mulai berbisik semiskinkah itu keluarga ini. Sampai Paryono tidak sarapan waktu itu. “ Motor butut yang dibawa bapak adalah pemberian dari almarhum Pakdhe Tono, kakak bapak. Pakdhe iba sekali dengan kehidupan keluarga kami meski Pakdhe hanya seorang tukang parkir. Sebenarnya lagi hampir setiap harinya ketika berangkat bekerja bapak tidak pernah sarapan untuk mengganjal perut kecilnya”. Aku masih belum bisa berbicara untuk membalas perkataannya. “sejak ibu meninggal, bapak dengan sekuat tenaga terus merawatku hingga besar. Berbagai hal yang penuh dengan kesusah payahan kami lewati berdua. Bapak itu sangat baik sekali. Meski kita kekurangan tapi bapak sering membagikan uangnya yang tak seberapa ke orang-orang yang lebih membutuhkan dari kita. Bapak mengajarkanku untuk selalu dekat dengan Allah dalam keadaan apapun dan tetap berbagi dengan sesama. Aku tidak pernah melihat wajah bapak yang murung atau sedih menyesali hidupnya. Bapak selalu tersenyum dan bersyukur dengan apapun pemberian Allah. Bapakku adalah inspirasiku”  lanjut penjelasan Diana. Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Dalam hatiku berbisik “apa yang aku lakukan dulu, aku mendoakan agar seorang bapak yang baik ini celaka gara-gara ketidak sengajaannya mengakibatkan kakiku kiriku harus diamputasi”.
         Dari pertemuan tersebut dan dengan kisah yang diceritakannya benar-benar membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku terus berpikir dan berkaca memikirkan diriku dan keadaan yang dialami Diana setelah Paryono meninggal. Sampai pagipun aku masih mengalami hal yang sama. Dan sekarang aku mulai melakukan aktifitas sehari-hariku. Meski hari ini jam baru menunjukkan sekitar pukul 10.00 pagi, tapi karena hatiku terus bergejolak dengan ketidak tenangan saat meminta-minta maka kuputuskan untuk pergi pulang saja. Aku berjalan dengan kaki pincangku ini dan tiba-tiba dengan mendadak aku mengucapkan “Astaghfirullahaladzim”. Sebuah kata-kata yang mulai menuntunku kembali pada tujuan mengapa manusia diciptakan di dunia yaitu untuk menyembah Allah. Pada detik ini aku sudah mulai berazam untuk mengubah hidup sesatku ini. “Aku harus optimis. Aku harus berhenti menjadi pengemis dan aku harus bermanfaat bagi orang lain. Pincang bukanlah masalah”.
          Otakku yang lama membeku mulai bisa berjalan dengan sehat lagi. “Bisa apa saja aku selanjutnya? Seorang pincang dengan ijazah STM di riwayat pendidikan terakhirnya”.  Terbesit dalam pikiran secara tiba-tiba dengan keadaan Diana yang sudah tidak menikmati pendidikan formal di Sekolah. Atau anak-anak jalanan dan anak-anak miskin yang sudah tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Diantara anak-anak jalanan itu juga ada yang mengalami hal yang tak jauh beda denganku yaitu kehilangan anggota tubuhnya. Atau anak-anak yang terjebak dalam dinamika arus zaman gila ini. Mereka mengatasnamakan persaudaraan dalam ikatan yang disebut Punk. Disisi yang lain mengapa juga banyak orang-orang yang sukses dan berprestasi. Lantas anak-anak tersebut harus diapakan agar masih dapat menikmati usianya. Kemudian pertanyaannya apakah mereka masih ingat dengan yang namanya pendidikan. Buat apa sekolah-sekolah itu masih berdiri tegak jika masih bisa ditemui anak-anak yang masih belum manikmati pendidikan. Usia belia yang harusnya masih mengikat mereka untuk sekolah agar menjadi tulang punggung bangsa yang hebat. Fenomena seperti itu pasti tidak hanya terjadi di kota ini saja.

       Akan kubuat rencana kedepan untuk diriku dan masa depan pendidikan anak-anak itu. Meski aku bukanlah pejabat atau presiden, tapi aku adalah tetap seorang yang harus bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “Terimakasih ya Allah.engkau mempertemukanku dengan gadis itu. Diana, kau telah membuka mataku. Jika aku sudah dalam keadaan yang lebih baik esok aku akan menemuimu. Aku akan mengatakan tentang diriku dan ayahmu apapun konsekuensinya, termasuk jika kau bahkan membenciku. Tapi aku tak akan membencimu. Kemudian aku akan mengembalikan hakmu untuk mendapatkan pendidikan di sekolah. Kau menyadarkanku dengan ketabahan dan kegiatanmu mengajar anak-anak jalanan selama ini. Diana, sekarang aku tahu bahwa pendidikan itu adalah awal dari berbagai dimensi kehidupan yang lain. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah untuk semua”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar