Selasa, 10 Juni 2014

Lautan Parodi Kemenangan (chapter 1)

     Rasa lapar ini semakin membuatku ingin segera bergegas untuk menadahkan tangan seperti biasanya. Entah mngapa sejak dua hari terakhir ini ada suatu yang berbeda ketika hendak menadahkan tangan ini. Hatiku menolak dengan begitu kerasnya, tapi langkahku tetap melakukannya. Aku hanya merasa inilah diriku.  Seharian ini rasa sepi dan penuh lamunan sangat menggelayuti raga dengan satu kaki ini. Sebuah pertemuan kemarin dengan seorang gadis yatim piatu menjadi permulaannya. Ketika hendak ingin menadahkan kembali tanganku di lampu merah ini, pasti ada suatu tekanan dari hati akan perkataan- perkataan si gadis itu. Sesalpun ada. “oh Diana, mengapa aku bertemu denganmu waktu itu?.  Dan mengapa aku mau berbincang-bincang denganmu? Ahhh sial”. Bisikan hati semacam inilah yang kuanggap sebagai rasa sesalku atas pertemuan itu. Namun dari pertemuan itu aku juga mampu membuka mata hatiku yang seakan tertutup selama 1 tahun lamanya.
       
       Dari pertemuan itulah air mataku yang sudah hampir 1 tahun sejak kecelakaan di proyek bangunan mulai meluluhkan tetesan  sedikit demi sedikit.  Sebuah kelalaian dari seorang teman proyek yang membuat selamanya tubuh ini tanpa mempunyai kaki kiri. Memang kejadian ini tak bisa kumaafkan dengan begitu saja. Rasa marah dan dendam kepada rekanku itu selalu menjadi titik hitamku untuk selalu berdekatan dengan harapan agar rekanku juga mengalami hal yang sama denganku. Lepas satu minggu setelah kecelakaanku di proyek bangunan, ada sebuah kabar bahwa rekanku yang bernama Paryono itu dipecat dari proyek karena kelalaiannya. Tidak lama kemudian dia mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari sepeda motornya tanpa diketahui banyak orang apa penyebabnya.  Ada rasa puas dari dalam hatiku ketika mendengar kabar itu. Mungkin inilah jawaban Tuhan atas rasa-rasaku selama ini kepada Paryono.  Rasa puas itu tak lama kurasakan sampai kabar selanjutnya mengatakan bahwa setelah dirawat dirumah sakit dia kemudian meninggal.  

       Aku tetaplah manusia yang masih punya nurani. Rasa sesal dan tangispun menghantui diriku. “apakah ini karena doa-doaku selama hampir 1 minggu  semenjak dirawat dirumah sakit ini? ”. “apakah boleh aku melakukan permohonan seperti itu kepadanya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selama beberapa waktu kembali meluluhkan hati dan jiwaku akan rasa kesal kepada Paryono. Tapi ketika melihat kakiku yang sedang buntung dan terbungkus oleh perban rasa kesal penuh amarah kembali menggelayuti. Mungkin hal itu oleh Tuhan dirasa sepadan dengan derita yang kualami saat ini. Gara-gara kaki ini buntung, pernikahanku dengan Rianti terancanm batal. Meski kita berdua memang dijodohkan. Tapi hanya saja dia belum mengatakannya padaku.  Dia hanya meluapkan isi hatinya kepada ibuku. Aku paham dengan apa yang dirasakan oleh Rianti. Aku tidak bisa berfikir secara sehat untuk membuat alasan mempertahankan pernikahanku dengannya. 

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar