Rasa lapar ini semakin membuatku ingin segera
bergegas untuk menadahkan tangan seperti biasanya. Entah mngapa sejak dua hari
terakhir ini ada suatu yang berbeda ketika hendak menadahkan tangan ini. Hatiku
menolak dengan begitu kerasnya, tapi langkahku tetap melakukannya. Aku hanya
merasa inilah diriku. Seharian ini rasa
sepi dan penuh lamunan sangat menggelayuti raga dengan satu kaki ini. Sebuah pertemuan
kemarin dengan seorang gadis yatim piatu menjadi permulaannya. Ketika hendak
ingin menadahkan kembali tanganku di lampu merah ini, pasti ada suatu tekanan
dari hati akan perkataan- perkataan si gadis itu. Sesalpun ada. “oh Diana, mengapa aku bertemu denganmu
waktu itu?. Dan mengapa aku mau berbincang-bincang
denganmu? Ahhh sial”. Bisikan hati semacam inilah yang kuanggap sebagai
rasa sesalku atas pertemuan itu. Namun dari pertemuan itu aku juga mampu
membuka mata hatiku yang seakan tertutup selama 1 tahun lamanya.
Dari pertemuan itulah air mataku yang sudah hampir 1 tahun sejak kecelakaan di proyek bangunan mulai meluluhkan tetesan sedikit demi sedikit. Sebuah kelalaian dari seorang teman proyek yang membuat selamanya tubuh ini tanpa mempunyai kaki kiri. Memang kejadian ini tak bisa kumaafkan dengan begitu saja. Rasa marah dan dendam kepada rekanku itu selalu menjadi titik hitamku untuk selalu berdekatan dengan harapan agar rekanku juga mengalami hal yang sama denganku. Lepas satu minggu setelah kecelakaanku di proyek bangunan, ada sebuah kabar bahwa rekanku yang bernama Paryono itu dipecat dari proyek karena kelalaiannya. Tidak lama kemudian dia mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari sepeda motornya tanpa diketahui banyak orang apa penyebabnya. Ada rasa puas dari dalam hatiku ketika mendengar kabar itu. Mungkin inilah jawaban Tuhan atas rasa-rasaku selama ini kepada Paryono. Rasa puas itu tak lama kurasakan sampai kabar selanjutnya mengatakan bahwa setelah dirawat dirumah sakit dia kemudian meninggal.
Aku tetaplah manusia yang masih punya nurani. Rasa
sesal dan tangispun menghantui diriku. “apakah
ini karena doa-doaku selama hampir 1 minggu
semenjak dirawat dirumah sakit ini? ”. “apakah boleh aku melakukan
permohonan seperti itu kepadanya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selama
beberapa waktu kembali meluluhkan hati dan jiwaku akan rasa kesal kepada
Paryono. Tapi ketika melihat kakiku yang sedang buntung dan terbungkus oleh
perban rasa kesal penuh amarah kembali menggelayuti. Mungkin hal itu oleh Tuhan
dirasa sepadan dengan derita yang kualami saat ini. Gara-gara kaki ini buntung,
pernikahanku dengan Rianti terancanm batal. Meski kita berdua memang
dijodohkan. Tapi hanya saja dia belum mengatakannya padaku. Dia hanya meluapkan isi hatinya kepada ibuku.
Aku paham dengan apa yang dirasakan oleh Rianti. Aku tidak bisa berfikir secara
sehat untuk membuat alasan mempertahankan pernikahanku dengannya.
Bersambung...
Bersambung...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar