Senin, 01 September 2014

Malam kenangan




Rasa dingin perlahan ada
Ada untuk dinikmati
Bagai sebuah semangka
Datang menjadi penyegar panasnya hari

Terangkat dua tangan
Memadu pikiran dan jiwa
Tetesan air mata dan rasa bercucuran
Menemani hangatnya romantisme doa

Berlabuh dalam hati
Perahu lama penuh catatan
Catatan yang bisa tertangisi
Buruknya perangai sebagai seorang insan

Detik akan terus terlalui
Waktu semakin kedepan
Segarnya udara pagi dinikmati
Kokohkan diri penuh harapan

Action of freshness





"But I always wondered, and I will never stop wondering .. this is just a little story about a handful of freshness and darkness. then began to swim in a sea of ​​undergrowth"



Setiap detik kehidupan yang sudah ditakdirkan bukanlah untuk disesali. Tapi rasa syukur harus senantiasa terucap dan terlaksana. Bersyukur dengan pagi baru yang akan dijalani dan tidak ada rasa penyesalan dengan hari kemarin. Serta juga tidak khawatir dengan masa depan kita.

Adanya iman seharusnya berjalan lurus dengan rasa keberanian, optimis dan ketidakputusasaan. Siap memulai hidup baru dan siap untuk menerima berbagai kritik yang membangun diri.

Hari ini yang dijalani, hari esok yang dihadapi. Keadaan dan kemampuan yang dimiliki saat ini, serta kondisi dan situasi lingkungan yang mungkin tidak bersahabat sesungguhnya merupakan pilar-pilar yang akan membangun masa depan kita.

Menghargai segala proses yang tertakdirkan. Hal itu sebagai pemecut agar tetap bisa memandang positif hidup ini. Maka tidak ada alasan untuk menunggu, menunda dan malas. Karena waktu terus berjalan dan momentum itu tidak datang dengan sendirinya.

Kadangkala kita berpikir untuk membuat sebuah momentum tertentu kita harus menunggu momentum yang lain (eksternal) datang terlebih dahulu. Contohnya ketika kita inigin memperbaiki diri harus menunggu sampai tahun baru datang. Atau lagi ketika kita ingin menjadi pembelajar giat kita menunggu sampai mempunyai meja belajar yang bagus.

Satu hal yang perlu diingat adalah momentum perbaikan diri yang diawalai dengan azam kuat dari dalam diri akan senantiasa mengalir dalam darah. Atau bahasa mudahnya lebih tahan lama. Hal-hal diluar (eksternal) hanya sebagai tambahan pemicu saja.

Membuat momentum yang diawali dengan kesadaran yang lahir dari luasnya berpikir, modifikasi positif perasaan  dan penjiwaan yang mendalam. Mungkin hal-hal itu adalah cerminan kesegaran yang teraih dalam  setiap  rasa kebahagiaan, optimisme dan keberanian.  

Akan lebih penting jika setiap kita mendapatkan inspirasi kesegaran harus segera bergerak agar tidak menguap. Sebab jika kesegaran itu menguap maka pasti inspirasi itu hanya akan menjadi penghias angan-angan kosong pikiran saja.  

Perlunya manajemen kesegaran adalah solusi kongkrit bagaimana melakukannya. Salah satu kuncinya adalah menjaga kedisiplinan rutinitas. Kedisiplinan rutinitas disini dalam artian segala pekerjaan yang sifatnya kewajiban. Misalnya tepat waktunya sholat atau terjaganya jadwal membaca Al Quran atau buku dsb. Hal-hal itu akan menjaga kondisi tubuh ini agar selalu siap siaga untuk menangkap kesegaran. Rutinitas yang posifit dan bermanfaat.  

Program lain yang agaknya perlu dilakukan adalah menjalin komunikasi atau persahabatan dengan orang lain. Bukan sembarang bersahabat atau berkomunikasi. Tapi setiap orang itu adalah inspirasi. Orang yang bervisi akan lebih berharga untuk diajak berpatner dari pada orang yang hanya berangan kosong tanpa aksi. Atau lagi orang optimis akan lebih berharga daripada orang yang sering galau tak jelas. Berbagai contoh diatas bermaksud agar kita dalam pertemanan yang terprogres harus pilih-pilih siapa orang yang ingin kita jadikan sahabat karib. Sebab kadang kala dan tidak dapat terpungkiri kita terbentuk oleh lingkungan. Dengan siapa kita bergaul itulah kita. Tapi kita juga tidak boleh menjauhi teman-teman yang mungkin dalam benak kita dapat mempengaruhi kepositivan hidup. Sebab kita harus take and give. Selain kita mencari tapi kita juga harus menebarkan dan membagi. Siapa tahu kita malah juga dijadikan oleh teman-teman tersebut sebagai seorang inspirator.

Untuk menjaga keselarasan antara disiplin rutinitas dan komunikasi atau persahabatan tersebut, ada yang juga perlu diperhatikan lagi. Ini masalah tentang menjaga perkataan. Setiap kata yang pernah terucap mungkin itu pernah juga menyakiti teman atau orang lain. Atau bahkan bisa membuat permusuhan dari kata-kata tersebut. Berhati-hati dalam berucap adalah harus agar bisa menjaga persepsi dan kepositifan orang lain terhadap diri kita.

Berhati-hati dalam berkata otomatis akan menunjang kemampuan dalam berfikir kita. Kita akan semakin terstimulasi untuk maju dan berkembang. Dan kemudian rasa optimis dan keberania akan menyelarasi hal tersebut. Kita jangan memposisikan berhati-hati dalam berkata ini untuk agar kita selalu diam dalam segala apapun. Tapi berhati-hati dalam berkata ini haruslah membuat kita untuk hanya berkata yang bermanfaat dan benar saja. Karena pasti kita tahu jika kebermanfaatan apa saja dari kita pasti juga mempunyai efek untuk kebermanfaatan selanjutnya.

Berkata yang bermanfaat dan benar sebenarnya lahir dari pemikiran yang sehat, perangai yang seimbang  dan jiwa yang sempurna. Perkataan orang-orang yang demikian pasti akan selalu didengarkan dan kemungkinan besar juga akan mengabadi. Contohnya seperti ketika membaca dan mengamalkan inspirasi kisah-kisah generasi Rasul dan para sahabat. Saat-saat seperti itu seperti mereka masih hidup meskipun kita tahu bahwa mereka sudah tidak lagi di dunia. Kemurnian watak dari mereka menjadi kisah dan inspirasi bagi generasi selanjutnya.

Maka dalam meraih kesegaran dalam apapun kita juga harus mendapatkan contoh dan teladan yang sempurna. Dan jawabannya adalah para nabi dan rasul serta juga sahabat dan para tabiin yang mulia. Ada banyak inpirasi kesuksesan dari mereka. Pemaknaan yang baik juga akan membantu dalam memahami jalan-jalan kehidupan yang dahulu dan sekarang.

Tapi terkadang mungkin kita juga berpikir untuk mendapatkan inpirasi segar laiinya yang bisa didapatkan di zaman ini. Maka perlunya kita sering mendatangi majelis ilmu serta juga pandai memaknai alam ini. Para ulama, ustadz dan mubaligh akan membimbing kita memahami berbagai nilai-nilai kehidupan. Membaca kisah-kisah orang yang sukses di zaman modern untuk kita ambil inspirasi ilmunya agaknya juga diperlukan.

Kehidupan memang akan selalu berjalan tapi jangan sampai kita tergilas olehnya karena kemalasan dan penundaan yang kita lakukan. Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selalu membuat perbaikan diri dalam berbagai kondisi yang menghampiri kita. Berdoa dengan khusuk dan sabar bisa membantu untuk menguatkannya.


Mari Menjaga Sholat Kita



Sholat adalah ibadah wajib bagi semua umat muslim. Sholat juga adalah pembeda antara orang muslim dan kafir. Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai shalat, barangsiapa meninggalkannya maka dia kafir.” (HR. Ahmad, Abu Daud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dengan sanad yang shahih dari Buraidah Al Aslami). Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda, “Sesungguhnya batasan antara seseorang dengan kekafiran dan kesyirikan adalah shalat. Barangsiapa meninggalkan shalat, maka ia kafir” (HR Muslim no. 978)..
Sholat juga merupakan kewajiban utama setelah dua kalimat syahadat dan juga termasuk rukun iman. Rasulullah shallallahu alaihi wa salam bersabda, “Islam itu dibangun di atas lima perkara, yaitu: bersaksi bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, mengerjakan haji ke Baitulloh, dan berpuasa pada bulan Romadhon.” (HR Muslim no. 16)
Dan jangan lupa jika sholat adalah tiang agama serta amalan pertama yang akan di hisab di yaumul akhir. Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825.).   
Rasulullah SAW : "Amalan seorang hamba yang paling pertama dihisab di
hari Kiamat adalah sholat, jika sholatnya baik maka baik pula seluruh amalannya,
dan jika shalatnya rusak maka rusak pula seluruh amalannya." (HR.
Ath-Thabarani)

Sebagai seorang muslim yang bertanggung jawab dengan keberadaannya di bumi, seharusnya harus paham dengan tugas-tugas keislamannya. Sholat yang merupakan ibadah wajib seringkali diposisikan hanya sebagai rutinitas tanpa ada pemaknaan yang baik disana. Bahkan lebih ekstrim ada yang sudah tidak lagi mempedulikan sholatnya atau malah melupakannya. Jangan sampai kita menjadi generasi yang demikian sebagaimana firman Allah SWT :
"Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (Maryam : 59) Selanjutnya dalam ayat lain ditegaskan : "Barang siapa yang menjaga sholat maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaga sholatnya maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat dia akan bersama Qarun, Fir'aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf."(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, jayyid.)

Tapi tidak baik jika tidak mengintrospeksi sholat yang selalu dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar perbaikan pada diri bisa terus terjaga dan agar tidak celaka pada akhirnya. Sudahkan sholat kita baik. ataukah malah lalai akan sholat kita?. Ataukah kita tetap melakukan dosa meskipun kita tetap sholat?.
"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang sholat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya." (Al-Ma'un : 4 - 5). 

Tapi sangat disayangkan bila shalat hanya dijadikan sebagai ibadah rutin yang dilakukan dengan terpaksa. Banyak sekali realitanya oleh sebagian Umat Islam yang melaksanakan shalat sebatas untuk menunaikan kewajiban, bukan sebagai kebutuhan.

Agar ada semangat tambahan ketika melakukan sholat, maka harus paham ilmunya. Termasuk juga harus tahu keutamaan dan balasan jika tidak melakukannya. Berikut ini keutamaan mengerjakan shalat :
1) Mendapatkan cinta dan ridho Allah
Orang yang mengerjakan shalat berarti menjalankan perintah Allah, maka ia pantas mendapatkan cinta dan keridhoan Allah. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (wahai muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
2) Selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.”(QS. Al Ahzab: 71). Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi Rahimahullahu ta’ala berkata, “Yang dimaksud dengan kemenangan dalam ayat ini adalah selamat dari api neraka dan masuk kedalam surga” (Aisirut Tafasir, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi Hafidzhahullahu, Asy Syamilah).  Dan melaksanakan sholat termasuk mentaati Allah dan Rasul-Nya.
3) Pewaris surga Firdaus dan kekal didalamnya
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman  dan orang-orang yang memelihara sholatnya mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-11)
4) Pelaku shalat disifati sebagai seorang muslim yang beriman dan bertaqwa
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah: 2-3)
5) Akan mendapat ampunan dan pahala yang besar dari  Allah
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 35)
6) Shalat tempat meminta pertolongan kepada Allah sekaligus ciri orang yang khusyuk
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. Al Baqarah: 45)
7) Shalat mencegah hamba dari Perbuatan Keji dan Mungkar
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut: 45)



Dampak dari melakukan dosa #1


Kamis, 07 Agustus 2014

Air Terjun Jumog (The Lost Paradise)


Tempat wisata ini terletak di lereng Gunung Lawu sekitar 500 meter disebelah barat Candi Sukuh. Namanya air terjun Jumog. Pemandangan asri dan air yang segar akan membetahkan mata.

Berjarak sekitar 40 km ke arah timur Solo.  Jika berangkat dari arah Solo menuju Tawangmangu. Di pertigaan selepas Pasar Karangpandan, ambillah jalur ke kiri ke arah Ngargoyoso. Jalur ke kanan adalah jalur ke Tawangmangu.
Selanjutnya dari tempat parkir air terjun ini berjarak sekitar 400 m dengan berjalan kaki melewati jalan setapak berbentuk tangga turun.  Jalan setapak menuju ke air terjun ini  sudah tertata baik dengan material batu semen.

Selasa, 05 Agustus 2014

Rihlah ke Malang






















Malang bukan hanya terkenal sama tim sepakbolanya yaitu Arema atau sama buah apelnya saja. salah satu tempat yang wajib dikunjungi yaitu Jatim Park. banyak wahana permainan yang berpotensi mengocok perut pengunjungnya. Hampir mirip ma Dufan gitu deh.

Sayang hari dan tanggalnya lupa waktu kesana. Saya bersama rombongan dari Pesantren Mahasiswa Ar Royan Solo kala itu.

Kita ke malang dalam rangka agenda tahunan pesantren yaitu rihlah. Rihlah berguna untuk merefresh kita dan juga melihat keagungan alam ciptaan Allah agar kita senantiasa bersyukur.

2 rombongan bis dan mulailah kita bersama-sama bertualang.

Mentari Senja di Desaku



Alam Indonesia benar-benar luar biasa indahnya. Ga perlu jauh-jauh untuk hunting foto kalo nyari pemandangan kaya gini. Bersyukur sekali rasanya.

Kala itu masih bulan puasa H-1 lebaran. Yap, jadi tambah spesial kan? hehehe


Sore itu aku diajak seorang kerabatku pergi ke Simo ceritanya. Tapi ya berubah tujuan gitu mendadak. Kita pergi ke sawah di kampungku. kampung tempatku tumbuh dan mendapatkan banyak hal menyenangkan. Aku bisa merasakan berbagai kesedihan, marah, berkelahi, kebersamaan dan berbagai rasa-rasa kehidupan yang lain. Kampungku terletak di Karanggayam, Sumber, Simo, Boyolali, Jawa Tengah, Indonesia.

Alam di kampungku lengkap rasanya kalau mau menikmati segarnya alam pedesaan. Desa Sumber dulu nih katanya para orang tua filosofi penamaanny karena memang di Desa tersebut dengan mudahnya menemukan berbagai sumber-sumber kehidupan. Yap benar, aku adalah saksinya. Sumberdaya air yang melimpah. Jadi kalau kita mau cari air ga suit sama sekali.

Persawahan dan Ladang yang sangat terhampar luas. hehe,

Mau berenang ga usah cari kolam renang. cukup ke kali aja. Kali Cilik namanya. kenapa di namakan kali cilik aku kurang tahu. mungkin karena lebarnya yang ga begitu luas. aliran airnya juga bersahabat. airnyapun juga segar mengalir tanpa henti meski musim kemarau. nih fotonya.

Dulu pas kecil sering sekali main dan renang disini. pernah dulu juga pas masih TPQ/TPA karena bermain disini selepas ngaji jadinya terlambat sholat ashar dan alhasil jadi di gebukin guruku dengan rotan.

sekarang bisa juga untuk tempat ngetrak. nih buktinya.




Gitu dulu ya ceritanya. kalau ada kesempatan lagi mungkin akan saya sharekan kembali keelokan alam karunia Allah di Desaku. sekian dan terimakasih




Fresh Mood


Dapat foto keren pas makan bareng ma temen-temen PPL di bawah jembatan Jurug, Palur, Karanganyar, Solo, Indonesia.
Sotoshop beraksi..hehehe

#Natural #Segar #Indonesia

Pagi di Umbul Nilo Klaten Indonesia



Apapun yang terjadi persahabatan itu tetap hangatnya menembus hati.

Olahraga dipagi hari memang asyik apalagi kalau renang. 
Renangnya sama kawan-kawan terbaik pula.
Brrrrrr... dinginnya tak sampai kehati. karena hati sudah terlanjur hangat sama sahabat.
si Umbul Nilo ini menjadi saksi bisu kehangatan persahabatan.
  

Irama Lagu Laut Lepas


Rasa syukur senantiasa hanya tercurah untuk Allah SWT.
Bumi yang terhampar luas adalah karunia bagi kita untuk bagaimana caranya bisa mengetahui apa saja yang terdapat disana.  So... jangan ragu memulai perjalanan untuk melihat berbagai keindahan ciptaan-Nya.

Sang Saka


#PrayForIndonesia

indahnya alam Indonesia
merah putih begitu mempesona
lihatlah bendera sang saka
tertancap dan terikat di sana
deskripsi elok memudar warna
keseimbangan tak lagi terasa
merahmu tetap merona
sebagai tanda keberanian yang membara
tapi lihatlah puith sucinya
tersobek dan hilang kemana
semoga ini bukan tanda
tanda akan tidak baiknya penerus bangsa
yang tetap berani tapi mencair sucinya

Lucuti Rangkaian Yang Membelenggu

      Menjalani kehidupan di dunia ini sebagai bekal akhirat harus bisa membuat diri ini paham akan surga yang dijanjikan Allah kepada hamba yang bertaqwa yang diridhai-Nya. Memulai langkah dari setiap waktu untuk berjalan dan berlari mengejar rahmat dan ridha Allah kadangkala juga perlu untuk evaluasi diri dan merenungkan apa yang terjadi. Bukan merenung hanya karena rasa penyesalan, tapi juga merenung untuk membuat kemajuan kualitas keimanan dan amal.
        Moment kala sebuah renungan ringan akan kehidupan datang pada diri seakan seperti tirai yang mampu menutupi kecintaan akan duniawi. Renungan itu akan mulai mendalam. Terbayang akan sebuah rasa tentang apa yang pernah terbuat oleh tubuh, hati dan pikiran diri ini.
Setiap orang itu unik. Termasuk dalam merenung untuk perbaikan dirinya. Mungkin ada orang yang bertanya kepada dirinya dengan hati yang terdalam dan kemudian mencari jawaban atas kegusarannya. Bertanya kepada dirinya sendiri. Mungkin dengan pertanyaan-pertanyaan seperti dibawah ini, lantas mencoba mencari solusi atas masalah itu dengan kebenaran agama yang tertata oleh kepekaan ruhani dan wawasan ilmu mendalam.
  
“Sahabatku, aku ingin bertanya padamu. apakah aku ini sudah benar-benar menjadi manusia? Manusia sesuai dengan fitrahnya mengapa dia diciptakan didunia ini? Apa aku malah seperti orang-orang yang diberikan kesempitan oleh Allah karena keingkarannya. Mereka sulit mendapatkan rahmat Allah.  Dan aku hanya bisa berkaca dan mencoba mengenal diriku lebih dalam lagi untuk berusaha memperbaiki diri dan mendekatkan diri baik pikiran, jiwa dan tubuh hanya kepada Allah, patuh dengan perintah Nabi-Nya, bangga dengan Islam dan menjadikan Al Quran sebagai pedoman serta tidak meninggalkan dan meremehkan jihad. Aku harus bisa semampuku. Aku juga berusaha untuk menjaga ibadahku agar tidak naik turun layaknya kefuturan karena keistiqomahan dan keberjenjangan dalam beribadah sudah kusadari terlebih dahulu. Lantas  jika ada permasalahan aku akan bagaimana menghadapinya?apakah aku akan berlari untuk menghindarinya? Ataukah aku tetap berdiri tegap penuh kesadaran untuk melawan amukan badai masalah itu?”

        Menyadari jika islam adalah agama fitrah sangatlah penting. Seperti apa yang pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya. Beliau menuliskan dalam bukunya jika islam adalah agama fitrah. Islam adalah agama yang sesuai dengan watak dan kecenderungan alami manusia. Ajaran islam yang meliputi seluruh sendi kehidupan sangat selaras dengan tabiat yang murni dan pemikiran yang lurus. Panduan dan bimbingan yang memancar dari prinsip-prinsip dasarnya (ushul) mengarahkan menusia menuju kesempurnaan dan kedamaian jiwa.
        Lebih lanjut lagi beliau juga menerangkan mengenai kata “fitrah” itu sendiri. Kata “fitrah” berdiri sendiri, tak ada pengertian baginya selain fitrah salimah atau fitrah yang baik atau tabiat alami yang murni. Setiap cela atau cacat yang melekat pada tabiat, penyebabnya bukanlah tabiat itu sendiri, melainkan factor dan hal lain yang memengaruhi dan mengubahnya menjadi kurang atau cacat. Diumpamakan seperti janin seharusnya keluar dari perut ibunya dalam keadaan normal tanpa cacat. Jika dia lahir dengan keadaan tidak semestinya seperti buta karena factor turunan maka kebutaan itu merupakan kejadian aneh diluar tabiat dan menyalahi fitrah. Contoh lain misalnya seperti buah-buahan. Semestinya buah-buahan dipetik dalam keadaan bebas dari cacat akibat serangan dari serangga atau hama lainnya. Maka agar buah itu sehat seperti tabiatnya maka petani harus menanam dengan benih yang bagus dan perawatan yang baik agar sesuai kehendak Allah, yaitu panenan yang bebas dari segala cacat dan kekurangan.
     Tidak heran jika kita sering menemukan orang yang perkataannya didengar oleh orang lain karena memiliki akal dan jiwa yang sehat, perangai yang seimbang dan watak yang sempurna. Maka ketika ada sahabat yang bertanya kepada Rasulullah dan kemudian dijawab dengan “mintalah fatwa pada hatimu”. Rasulullah tidak memaksudkan sabdanya itu bagi pendosa yang menghalalkan darah orang lain, pemakan hak orang lain, atau orang yang kerap melakukan dosa besar.
     Namun, jawaban itu ditujukan kepada orang yang berduka setelah melakukan dosa kecil, orang yang selamat fitrahnya dan/atau orang yang selalu ingin melakukan kebaikan.
Jika kita mencermati warisan berbagai generasi manusia dari beragam peradaban yang berbeda-beda di barat atau timur. Kita akan melihat mereka (pemilik fitrah yang baik) melahirkan mutiara hikmah dan warisan yang berharga.
       Kita sekarang hidup di zaman yang penuh fitnah dan kezaliman. Yang kata banyak orang “maling teriak maling” dan tidak jelasnya mana yang hitam dan mana yang putih. Sedikit demi sedikit harus mulai menyadarkan minimal diri sendiri dan meningkat ke orang lain sesuai kemampuan. Berusaha untuk membuat keajaiban dari lincahnya tangan, indahnya tutur kata dan sucinya pikiran.
Mungkin hal itu sangat sulit dilakukan. Tapi kita harus tetap yakin karena Allah sesuai persangkaan hambanya.
       Berusaha untuk menjadi pribadi muslim yang memiliki wawasan mendalam serta kepekaan ruhani dan penuh rasa ikhlas untuk mengamalkannya.

Ya tuhanku berikanlah aku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang yang datang kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan (QS  Asy-Syu’ara (26) : 83-85)


Kehidupan dunia ini hanya senda-gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui (QS  Al Ankabut(29) : 64)

Senin, 04 Agustus 2014

Lautan Parodi Kemenangan (chapter 2)


          Pada saat itu aku benar-benar serasa hancur. Pujaan hatiku pergi dari angan dan kenyataanku dan aku juga tak punya pekerjaan lagi. Hampir selama satu bulan aku melanjutkan hidup dari penghasilan ibuku sebagai pedagang nasi pecel di warung kecilnya. Jiwaku masih terguncang dengan peristiwa-peristiwa yang telah kualami setelah kecelakaan. Sampai saat itupun aku masih belum bisa bangkit. Tabunganku sudah habis untuk biaya dirumah sakit. Jadi seakan sudah habislah hidupku yang baru berusia 24 tahun ini. Harusnya ini adalah usia produktif diriku, Prasetyo si anak tunggal yang kini buntung satu kakinya sampai lutut saja.
        Nestapa belumlah berakhir. Selang beberapa minggu ibuku meninggal diusianya yang menginjak 67 tahun. Belum habis sedihku dengan peristiwa yang lalu. Sekarang malahan ditambahkan oleh Tuhan dengan mengambil ibuku. Tubuhku sudah semakin terasa tak bernyawa lagi. Putus asa menggerayangi dan hampir aku bunuh diri karena hal itu, hanya saja perasaan ini masih bisa kutahan. Sejak itupun aku sedikit demi sedikit menjauh dari Sang Pencipta yaitu Allah Azzawajalla. Aku merasa Dia sudah tidak adil lagi denganku. Sholat dan ibadah lainnyapun mulai kutinggalkan.
        Disaat yang lain aku mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat usaha. Ada mebel, kerajinan kayu ataupun di toko-toko. Tapi hasilnya nihil. Mereka tidak membutuhkan orang dengan salah satu kakinya hanya sampai lutut ini. Aku masih terus mencoba dan mencoba. Sampai pada akhirnya lika-liku itu berakhir dan hidupku mulai dijalanan. Aku terdesak dengan kebutuhan untuk menyambung hidup. Aku tidak punya uang lagi. Lantas menjadi pengemislah diri ini karena memang rasa putus asa sudah menjalar ke sebagian besar otak, jiwa maupun raga.  Kulalui hari-hari menjadi pengemis di perempatan lalu lintas yang jaraknya tidak jauh dari kampungku, Desa Sumber kecmatan Banyuanyar Solo. Bahkan menjadi pengemis ini adalah pekerjaan terlama yang pernah ku geluti selama ini.
        Sore itu aku mencoba meminta-minta di sekitar Stadion Manahan. Tapi langkahku seakan menjadi pintu gerbang dengan seorang gadis bernama Diana. Pertemuan dengan Diana di depan stadion Manahan saat itu benar-benar telah membuatku seakan harus mempunyai paradigma kehidupan yang mesti diperbaiki. Sebuah pertemuan karena krek yang kupakai tiba-tiba terpleset dan akupun terjatuh. Dan selanjutnya datanglah Diana yang menolongku. Si gadis ini memang setiap harinya pada jam 1 sampai jam 3 sore mengajari anak-anak jalanan di sekitar Manahan dan sekitarnya untuk membaca dan menulis. Diana mempunyai cita-cita mulia sebagai seorang guru.
         Lantas ketika itu dia mengajakku untuk duduk istirahat di sebuah bangku dan mulailah kita berbincang-bincang. Anehnya aku mau saja diajaknya. Tapi aku ada rasa terimakasih dengannya. Diana memberiku minum dari botol air kemasan yang dia bawa. Segar sekali tenggorokan yang sudah mengering ini. Lanjut ke bagian berikutnya dari mulai perkenalan hingga pada akhirnya kita sama-sama mulai akrab dan terbuka satu sama lain. Diana seorang gadis berusia 14 tahun yang putus sekolah sejak 1 tahun lalu ini mulai menceritakan tentang dirinya secara terbuka. Dia putus sekolah karena sudah tidak ada biaya untuk hidupnya. Penyebabnya adalah ayahnya telah meninggal dunia waktu itu. Sang ibu juga telah meninggal ketika usia Diana masih 4 tahun karena Anemia.  Pada suatu titik dia menyebutkan nama seseorang yang rasa-rasanya sebuah nama itu tidak asing bagiku yaitu Paryono. Dia mengatakan bahwa paryono adalah ayahnya yang meninggal 2 tahun lalu karena jatuh dari motornya alias kecelakaan. “Ayahku ketika itu bekerja di sebuah proyek bangunan di daerah Jebres dekat UNS”. Diriku mulai terperanjat karena penjelasan Diana. Hal itu tidak aneh sebabnya 2 tahun yang lalu aku juga bekerja di tempat yang sama dengan ayahnya. Aku semakin tambah ingin tahu tentang Paryono yang diceritakan Diana sebagai ayahnya itu. Aku mulai banyak bertanya dengan lika-liku pertanyaan mengenai Paryono dan akhirnya benar. Paryono ini adalah rekan kerjaku dulu. Seorang paryono yang dulunya pernah menjadi objek segala doa yang penuh dengan amarah dan dendam dariku. Kini Diana si gadis jelita mulai hidup sebatang kara. Diana tinggal di sebuah yayasan yatim piatu dan tak bisa melanjutkan sekolahnya. Dia juga sudah tidak mempunyai kerabat atau saudara lagi. Sehingga ada seorang tetangga yang merasa empati kemudian membawanya ke yayasan yatim piatu agar Diana tetap melanjutkan hidupnya.
       “Dek berarti Bapakmu adalah rekan kerjaku dulu”. Mulutku mulai tak bisa berkata apa-apa lagi. “Benarkah itu mas?”. “yah… benar sekali” sahutku. “saat kecelakaan itu terjadi bapak habis mengantarku dari sekolah. Bapak tidak sempat sarapan pagi itu. Jatah nasi hanya cukup untukku saja dan bapak merelakan untuk tidak makan sesuappun. Bahkan beliau juga tidak minum segelas air saat itu. Mungkin itu adalah penyebab bapak kecelakaan tapi aku juga tidak tahu”. Dalam hatiku mulai berbisik semiskinkah itu keluarga ini. Sampai Paryono tidak sarapan waktu itu. “ Motor butut yang dibawa bapak adalah pemberian dari almarhum Pakdhe Tono, kakak bapak. Pakdhe iba sekali dengan kehidupan keluarga kami meski Pakdhe hanya seorang tukang parkir. Sebenarnya lagi hampir setiap harinya ketika berangkat bekerja bapak tidak pernah sarapan untuk mengganjal perut kecilnya”. Aku masih belum bisa berbicara untuk membalas perkataannya. “sejak ibu meninggal, bapak dengan sekuat tenaga terus merawatku hingga besar. Berbagai hal yang penuh dengan kesusah payahan kami lewati berdua. Bapak itu sangat baik sekali. Meski kita kekurangan tapi bapak sering membagikan uangnya yang tak seberapa ke orang-orang yang lebih membutuhkan dari kita. Bapak mengajarkanku untuk selalu dekat dengan Allah dalam keadaan apapun dan tetap berbagi dengan sesama. Aku tidak pernah melihat wajah bapak yang murung atau sedih menyesali hidupnya. Bapak selalu tersenyum dan bersyukur dengan apapun pemberian Allah. Bapakku adalah inspirasiku”  lanjut penjelasan Diana. Entah kenapa air mataku tiba-tiba menetes. Dalam hatiku berbisik “apa yang aku lakukan dulu, aku mendoakan agar seorang bapak yang baik ini celaka gara-gara ketidak sengajaannya mengakibatkan kakiku kiriku harus diamputasi”.
         Dari pertemuan tersebut dan dengan kisah yang diceritakannya benar-benar membuatku tidak bisa tidur semalaman. Aku terus berpikir dan berkaca memikirkan diriku dan keadaan yang dialami Diana setelah Paryono meninggal. Sampai pagipun aku masih mengalami hal yang sama. Dan sekarang aku mulai melakukan aktifitas sehari-hariku. Meski hari ini jam baru menunjukkan sekitar pukul 10.00 pagi, tapi karena hatiku terus bergejolak dengan ketidak tenangan saat meminta-minta maka kuputuskan untuk pergi pulang saja. Aku berjalan dengan kaki pincangku ini dan tiba-tiba dengan mendadak aku mengucapkan “Astaghfirullahaladzim”. Sebuah kata-kata yang mulai menuntunku kembali pada tujuan mengapa manusia diciptakan di dunia yaitu untuk menyembah Allah. Pada detik ini aku sudah mulai berazam untuk mengubah hidup sesatku ini. “Aku harus optimis. Aku harus berhenti menjadi pengemis dan aku harus bermanfaat bagi orang lain. Pincang bukanlah masalah”.
          Otakku yang lama membeku mulai bisa berjalan dengan sehat lagi. “Bisa apa saja aku selanjutnya? Seorang pincang dengan ijazah STM di riwayat pendidikan terakhirnya”.  Terbesit dalam pikiran secara tiba-tiba dengan keadaan Diana yang sudah tidak menikmati pendidikan formal di Sekolah. Atau anak-anak jalanan dan anak-anak miskin yang sudah tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Diantara anak-anak jalanan itu juga ada yang mengalami hal yang tak jauh beda denganku yaitu kehilangan anggota tubuhnya. Atau anak-anak yang terjebak dalam dinamika arus zaman gila ini. Mereka mengatasnamakan persaudaraan dalam ikatan yang disebut Punk. Disisi yang lain mengapa juga banyak orang-orang yang sukses dan berprestasi. Lantas anak-anak tersebut harus diapakan agar masih dapat menikmati usianya. Kemudian pertanyaannya apakah mereka masih ingat dengan yang namanya pendidikan. Buat apa sekolah-sekolah itu masih berdiri tegak jika masih bisa ditemui anak-anak yang masih belum manikmati pendidikan. Usia belia yang harusnya masih mengikat mereka untuk sekolah agar menjadi tulang punggung bangsa yang hebat. Fenomena seperti itu pasti tidak hanya terjadi di kota ini saja.

       Akan kubuat rencana kedepan untuk diriku dan masa depan pendidikan anak-anak itu. Meski aku bukanlah pejabat atau presiden, tapi aku adalah tetap seorang yang harus bermanfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. “Terimakasih ya Allah.engkau mempertemukanku dengan gadis itu. Diana, kau telah membuka mataku. Jika aku sudah dalam keadaan yang lebih baik esok aku akan menemuimu. Aku akan mengatakan tentang diriku dan ayahmu apapun konsekuensinya, termasuk jika kau bahkan membenciku. Tapi aku tak akan membencimu. Kemudian aku akan mengembalikan hakmu untuk mendapatkan pendidikan di sekolah. Kau menyadarkanku dengan ketabahan dan kegiatanmu mengajar anak-anak jalanan selama ini. Diana, sekarang aku tahu bahwa pendidikan itu adalah awal dari berbagai dimensi kehidupan yang lain. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah untuk semua”.

Selasa, 10 Juni 2014

Lautan Parodi Kemenangan (chapter 1)

     Rasa lapar ini semakin membuatku ingin segera bergegas untuk menadahkan tangan seperti biasanya. Entah mngapa sejak dua hari terakhir ini ada suatu yang berbeda ketika hendak menadahkan tangan ini. Hatiku menolak dengan begitu kerasnya, tapi langkahku tetap melakukannya. Aku hanya merasa inilah diriku.  Seharian ini rasa sepi dan penuh lamunan sangat menggelayuti raga dengan satu kaki ini. Sebuah pertemuan kemarin dengan seorang gadis yatim piatu menjadi permulaannya. Ketika hendak ingin menadahkan kembali tanganku di lampu merah ini, pasti ada suatu tekanan dari hati akan perkataan- perkataan si gadis itu. Sesalpun ada. “oh Diana, mengapa aku bertemu denganmu waktu itu?.  Dan mengapa aku mau berbincang-bincang denganmu? Ahhh sial”. Bisikan hati semacam inilah yang kuanggap sebagai rasa sesalku atas pertemuan itu. Namun dari pertemuan itu aku juga mampu membuka mata hatiku yang seakan tertutup selama 1 tahun lamanya.
       
       Dari pertemuan itulah air mataku yang sudah hampir 1 tahun sejak kecelakaan di proyek bangunan mulai meluluhkan tetesan  sedikit demi sedikit.  Sebuah kelalaian dari seorang teman proyek yang membuat selamanya tubuh ini tanpa mempunyai kaki kiri. Memang kejadian ini tak bisa kumaafkan dengan begitu saja. Rasa marah dan dendam kepada rekanku itu selalu menjadi titik hitamku untuk selalu berdekatan dengan harapan agar rekanku juga mengalami hal yang sama denganku. Lepas satu minggu setelah kecelakaanku di proyek bangunan, ada sebuah kabar bahwa rekanku yang bernama Paryono itu dipecat dari proyek karena kelalaiannya. Tidak lama kemudian dia mengalami kecelakaan. Dia jatuh dari sepeda motornya tanpa diketahui banyak orang apa penyebabnya.  Ada rasa puas dari dalam hatiku ketika mendengar kabar itu. Mungkin inilah jawaban Tuhan atas rasa-rasaku selama ini kepada Paryono.  Rasa puas itu tak lama kurasakan sampai kabar selanjutnya mengatakan bahwa setelah dirawat dirumah sakit dia kemudian meninggal.  

       Aku tetaplah manusia yang masih punya nurani. Rasa sesal dan tangispun menghantui diriku. “apakah ini karena doa-doaku selama hampir 1 minggu  semenjak dirawat dirumah sakit ini? ”. “apakah boleh aku melakukan permohonan seperti itu kepadanya?”. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini selama beberapa waktu kembali meluluhkan hati dan jiwaku akan rasa kesal kepada Paryono. Tapi ketika melihat kakiku yang sedang buntung dan terbungkus oleh perban rasa kesal penuh amarah kembali menggelayuti. Mungkin hal itu oleh Tuhan dirasa sepadan dengan derita yang kualami saat ini. Gara-gara kaki ini buntung, pernikahanku dengan Rianti terancanm batal. Meski kita berdua memang dijodohkan. Tapi hanya saja dia belum mengatakannya padaku.  Dia hanya meluapkan isi hatinya kepada ibuku. Aku paham dengan apa yang dirasakan oleh Rianti. Aku tidak bisa berfikir secara sehat untuk membuat alasan mempertahankan pernikahanku dengannya. 

Bersambung...